Thankyou New York (a task)
Amerika,
sebuah negeri yang kerap disebut negeri Paman Sam, entah mengapa sampai
sekarang aku masih saja belum tahu siapa Paman Sam sebenarnya. Negeri yang aku
idam idam kan sejak remaja. Untuk bisa pergi kesana walau sehari saja. Untuk
melihat keramaian kota New York, melihat New York Fashion Week, Broadway, mengunjungi
rumah busana ternama dunia seperti Dior, Armani, dan Chanel, sampai ke
Hollywood dan bertemu artis Hollywood layaknya Kim Kardashian dan Penyanyi
USA sekelas Ariana Grande. Yaa aku sadar mungkin Impianku ini terlalu tinggi,
namun siapa tahu jika aku terus bermimpi maka mimpi ini akan jadi sesuatu yang
nyata. Sudahlah aku ingin kembali ke
dunia nyataku, aku adalah seorang mahasiswi jurusan Arsitektur semester 5 di
salah satu Universitas negeri terbaik di Indonesia. Aku berjalan menuju kantin
kampus sambil mendengarkan lagu Selena Gomez yang berjudul Same Old Love.
Saking asyiknya mendengarkan lagu aku tak dengar jika ada yang memanggilku,
ternyata dia si Asisten Dosen memanggilku untuk pergi ke ruang Rektor di lantai
3 huff.. baru saja mau bertemu kawan kawan ku di kantin. Dijalan menuju kantor
Rektor aku tak habis pikir kenapa aku bisa dipanggil ke kantor Rektor,
mengingat biasanya orang orang yang dipanggil
ke kantor Rektor adalah mahasiswa mahasiswa yang bermasalah. Sesampai di
lantai 3 aku melihat beberapa mahasiswa yang keluar dari kantor dosen, ku lihat
tampang tampang mereka adalah mahasiswa yang memiliki predikat mahasiswa
‘cerdas’ di kampusku. Lalu aku masuk ke ruangan Rektor ia langsung menyodorkan sebuah surat dan di amplopnya
terdapat tulisan “Student Excange Program” aku sangat kaget dan ngga percaya
lalu dituliskan bahwa Universitas yang akan aku tempati adalah New York
University, yaa New York salah satu Negara bagian Amerika Serikat. Yaallah aku
tidak dapat mendeskripsikan lagi perasaanku ini. Namun ingat aku harus
menjalaini serangkaian kegiatan untuk memastikan aku layak mengikuti program
exchange ini.
Kata
orang jangan pernah merasa bangga kalau kamu adalah siswa exchange sebelum kamu
sendiri sudah duduk di kursi pesawat terbang. Namun sekarang aku sudah duduk di
kursi pesawat terbang tujuan New York besama kawan kawan lainnya. Sedih
meninggalkan Indonesia selama 6 bulan apalagi meninggalkan keluarga apalagi
hati mama mungkin sedikit berat untuk melepaskanku sendiri disana, namun aku
berhasil meyakinkannya jika si anak kesayangannya ini mampu hidup mandiri di
Negara orang. Dipesawat aku hanya mengobrol dengan teman mahasiswa ku yang
duduk disampingku. Setelah terbang selama hampir seharian dan harus transit
akhirnya aku sampai di John F. Kennedy National Airport, huh.. aku ingin
berteriak sekencang kencangna saat keluar dr Pesawat “America I’m hereeeee…..”
ini impianku dari kecil, yang dulunya hanya sebuah impian namun sekarang
menjadi nyata, dulu mama sering bilang “nak kalau mimpi angan terlalu tinggi,
ngayal aja sukamu” dan sejak itu aku punya ‘goals’ sampai checklist ke
tempat/event yang harus aku kunjungi di Amerika. Disini masih sangatt dingin
beda sekali dengan di Indonesia, karena saat ini masih musim dingin aku pun
harus memakai baju berlapis lapis.
Pada
hari pertama di New York semua berajalan lancar bagiku, namun satu yang tidak
ku tahui, apa itu? Kiblat! Ya aku tidak tahu mana arah kiblat disini begitu
juga teman-temanku lalu aku berjalan menyusuri tempat tinggalku disini yang
mirip dengan sebuah apartement namun diperuntukkan untuk mahasiswa. Aku ingin
bertanya pada staff apartement, namun rasanya tidak mungkin, bisa dipastikan
mereka non islam. Lalu aku menengok ke samping kananku ada sebuah pintu kamar
yang terbuka dan aku lihat disampingnya terdapat sebuah Sajadah! Yaa Sajadah.
Lalu aku ketuk pintunya dan seorang pria muda membuka pintunya, aku lihat wajah
wajahnya seperti wajah orang Asia, mungkin malah Indonesia tapi aku ragu. Tidak
tahu kenapa saat aku akan berbicara mengapa dia menatapku dengan sedikit aneh,
ah sudahlah lalu dia bertanya “Can I help you?” lalu aku bertanya dimana arah kiblat,
namun dia malah menertawakanku, dia berkata bahwa seharusnya aku bisa
mencarinya di internet, lah.. bodohnya aku. Namun setelah itu dia malah
mengajakku untuk minum kopi di café dekat lobby, kami bicara panjang lebar
anehnya kita bisa langsung akrab, namun sepertinya ada sesuatu yang
ketinggalan, kita belum berkenalan. Aneh mungkin, kita berkenalan “lol, we’re
not introduce ourself yet” kataku, “my name is Sheerin” dia menjawab “Oh my
name is Marco Adiyasa” aku pun berbisik pada diriku sendiri “Hmm.. Sounds like
Indonesian name” ehh ternyata dia mendengarnya “Yeah, I’m Indonesian” “Lohhhh?”
kataku. Kalau tau ngapain kita harus bicara pake bahasa Alien daritadi huh..
Ternyata dia mahasiswa S2 yang kuliah di New York University juga. Dia sudah 3
semester kuliah disini, pastinya dia sudah lebih tahu tentang kota New York
daripada aku. Kami melanjutkan perbincangan kita mulai dari hal yang sepele
sampai hal yang serius. Kami mulai bertukar ID Line dan saling follow IG.
Setelah aku buka akun Instagramnya ternyata da menyukai fotografi juga
sepertiku, dan followersnya pun tidak main-main. Di sepanjang perbincangan aku
merasa ada yang berbeda dari tatapannya, aku seperti bisa melihat sesuatu di
hatinya. Dia berhasil membuatku nyaman pada perbincangan pertama kita.
Tidak
tahu kenapa, semakin lama kita semakin dekat saja, karena jadwal kuliahku dan
dia sering bersamaan kita jadi sering berjalan ke Station bareng, dan itu
membuat kita lebih dekat satu sama lain. Kita jadi lebih sering meluangkan
waktu week-end bersama untuk keliling New York, ya walaupun hanya ke
tempat-tempat sederhana untuk cekrak-cekrek saja. Di New York aku mendapatkan
banyak pengetahuan baru, seperti hal nya pemikiranku terhadap orang orang
Amerika adalah mereka anti sekali dengan muslim, ku kira dengan penampilanku
memakai hijab mereka menganggapku sebagai seorang ’terrorist’ itu salah besar,
orang orang disini malah sangat menghargai agama satu sama lain. Satu hal yang
sangat aku kagumi dari kota ini adalah kebersihan dan walaupun New York adalah
salah satu kota besar di dunia namun kota ini selalu bebas akan polusi. Karena
masyarakat disini lebih senang berangkat bekerja maupun bersekolah lebih
memilih menaiki transportasi umum bus maupun kereta. Ada salah satu kutipam
yang menarik yaitu ‘Negara yang maju bukanlah Negara yang masyarakatnya
mempunyai mobil banyak, namun Negara yang maju adalah Negara yang sebagian
besar masyarakatnya lebih memilih menggunakan transportasi umum.’ Arsitektur
bangunan di NYC pun semua terlihat sangat mewah dan modern, semua sudut kota
sangat memanjakan mata, belum lagi jika malam hari.
Ada
satu keinginanku yang cukup besar, yaitu melihat pertunjukan Broadway.
Kebetulan akhir pekan ini ada pertunjukan Broadway yang paling ditunggu publik
Amerika karena seluruh pemainnya dimainkan oleh actor Hollywood dan musical nya
diisi oleh penyayi layaknya Adele, Ariana, Charlie Puth dan penyayi tenar
Amerika lain. Dicanang-canangkan ini akan menjadi pertunjukan Broadway terbaik
sepanjang masa. Tapi ternyataaa.. setelah aku cek di website penjualan tiket
nya semua tiket SOLD OUT mukaku berubah murung seketika. Marco yang duduk
didepanku pun bertanya “Kenapa sheer?”, “Ituu.. tiket Broadway nya abis, gimana
dong, kita gajadi liat deh..”,”Lah yaudah, biasa aja kali, tahun depan juga ada
lagi.” Jawabnya cuek. “Gabisa lah, aku di New York kan cuma tahun ini, apalagi
katanya Broadway taun ini bakal jadi yang paling spesial, huhh..” aku kesal dan
kecewa. Marco pun cuma geleng geleng dan tertawa padaku, mungkin dia berfikir
aku seperti anak kecil yang keinginannya ga kesampaian. Malam harinya setelah aku
makan malam ada chat dari Marco, bunyinya “coba liat didepan pintu kamar kamu
deh”. Dengan hati penasaran aku pun membuka pintu kamar dan melihat ke lantai
ada sebuah kotak kecil, ku buka kotaknya perlahan dan ternyataaa huaa ada dua
buah tiket pertunjukan Broadway “Yeaaay!” teriakku dalam hati. Memang bukan
marco kalau tidak memberikan surpise yang membuatku bahagia. Ternyata dia sudah
membeli tiketnya sejak pre-sale dua pekan lalu hanya untukku. Siapa yang ngga
terkagum kagum sama cowo seperti Marco. Aku lalu membalas chat Marco dengan
emot emot alay yang mengekspresikan kebahagiaanku.
Weekend
pun tiba, ini saatnya aku dan Marco melaju ke Manhattan untuk menonton
Broadway. Akhirnya Broadway Theater pun dimulaii.. semuanya terlihat sempurna,
drama nya, musical nya, para actor nya dan sesorang yang disampingku menambah
kesempuraan malam ini. Saat aku menyimak pertunjukkannya si Marco malah
memandangiku dan tersirat senyum diwajahnya. Dan dia melakukan hal ini lagi,
memotret wajahku secara diam diam dan memposting-nya di Instagram dengan
caption yang bikin gemess. Pertunjukkan pun selesai, namun petualangan kita
belum selesai kami masih jalan-jalan menyusuri Broadway street yang sangat
menggambarkan wajah kota New York yang ramai namun romantis. Namun ditengah
jalan, eh dia hilang tiba-tiba. Namun beberapa menit kemudian dia muncul
didepanku dengan menggengam dua eskrim yang menutupi wajahnya, lagi-lagi dia
mebuatku tersenyum gembira, tapi makan eskrim dengan suhu udara newyork 5˚c
aneh juga. Lalu ia menarik tanganku dan berjalan menuju pinggiran sungai East atau
Kips Bay yang menghadap langsung ke Brooklyn Bridge, “Mashaallah..” satu kata
yang terpikir di benakku. Aku dan marco nggak henti-hentinya selfie ataupun
memotret pemandangan sekitar kita. Kita sama-sama orang yang berprinsip harus
bawa kamera kemana-mana, dan update instagram seketika itu juga. Dia benar
benar membuat Instagramku penuh dengan foto kebahagiaan kita berdua di kota
ini. Lalu kita duduk, aku melihat ke
atas, ada sebuah pent house, “Co, enak ya orang yang diatas pent house itu
mereka mesti lagi dinner sambil liat skyline New York gitu”. “Kenapa kamu
pengen?”. “Iya.. eh ga deng”. “Gimana sih yang bener dong, aku doain deh biar
suatu saat kamu bisa dinner sama cowo kamu disana”. “Ya, tapi cowo nya siapa?
Orang ga punya pacar juga ihh”. “Aku aja mau ga?” saut Marco dengan tatapan
mautnya, krik krik suasana hening sejenak, “Halah, apaan gombal” sautku. Dan
ternyataa aku lupa memakai kaos tangan, bodohnya aku tanganku bisa bisa beku
seketika, aku pun mengusap takanku dan meniupnya agar hangat. Marco pun sadar
jika aku kedinginan. “Loh.. kamu ga pake kaos tangan sheer?” “Udah tau pake
tanya ah” “Kamukan pake coat, diselipin di saku mu bisa kan?” “Lah, cuma di
kanan doang kantongya” “Yaudah sini..” kata ia, Marco menggenggam tangan kiri
ku dan menyelipkannya ke saku coat nya. Hmm.. apa apaan ini, kita berdua
mendadak canggung satu sama lain. Hari pun semakin larut, kami memutuskan
menuju Station dan kembali pulang.
Aku
perlahan lahan mulai memberikan tanda centang di checklist ku, mulai dari
Melihat Red Carpet, New York Fashion Week, Belanja, Festival Musik, Broadway sampai
hanya menikmati keramaian kota New York dimalam hari dan semua nya aku lewati
besama dengan-nya, Marco. Dia tidak pernah mengeluh saat setiap saat aku
memintanya menemaniku berbelanja, saat aku lapar dan mengajaknya mengitari kota
untuk mencari makanan halal, saat aku menelfonnya tengah malam karena tidak
bisa tidur. Saking seringnya kita bersama mamaku bisa ikut akrab dengannya
melalui video call, bahkan mama selalu meminta Marco untuk menjagaku selama aku
berkuliah di New York.
Akhirnya
liburan musim semi pun tiba, kami mendapat jatah liburan selama 3 minggu saja.
Waktu ini digunakan Marco untuk mengunjungi Indonesia sejenak, ia mengajakku
namun sayang aku masih mempunyai beberapa tugas yang harus aku selesaikan di
kota ini. Saat liburan aku mendapat sebuah pesan dari teman ‘pena’ ku yang
berasal dari Turki yaitu Aisha aku mengenalnya sudah sejak aku duduk di bangku
SMA kita sering mengobrol via chat maupun skype, namun kita belum pernah
bertemu langsung. Ia berkata bahwa ia sedang liburan ke kota New York, Ini
kesempatanku untuk bisa bertemu Aisha secara langsung. Kita bertemu di sebuah
restaurant di daerah Beverly Hills. Ia duduk di meja nomor 04, lalu aku
menghampiri meja tersebut. Ternyata Aisha tidak sendirian ia bersama seorang
laki laki. Aku kira laki laki itu adalah kekasih Aisha, namun tidak ia adalah
kakak Aisha yang bernama Adam. Kami bertiga duduk dan berbincang cukup banyak,
namun diujung pertemuan kami, mereka menyampaikan tujuan mereka sebenarnya datang
ke kota ini bukan untuk liburan, Adam mengutarakan tujuannya, ia berkata bahwa
sudah sejak lama ia mengagumiku, ia mendengar semua tentangku dari Aisha, ia
pun mengatakan kalau ia ingin mengikat sebuah hubungan yang lebih denganku.
Namun bagimana bisa aku yang baru mengenal Adam melakukan hal itu, aku tahu dia
orang yang berasal dari keluarga yang baik dan berpendidikan. Tapi bagaimana
dengan Marco? Aku tidak mau mengecewakan Adam, aku bilang akan aku sampaikan
jawabannya beberapa hari lagi.
Keesokan
harinya Marco kembali ke New York, ia membawakan banyak makanan yang aku
rindukan selama aku berada di sini. Salah satu makanannya adalah kue kering
buatan mama. Loh.. bagaimana bisa ia membawakan kue kering mama, apa dia sempat
bertemu mama di Indonesia? Dia tidak mau menjawab pertanyaanku ini membuatku
semakin bingung. Aku pun menceritakan pertemuanku dengan Adam dan Aisha,
mendadak mukanya berubah menjadi bete dan terlihat sedikit sensi, Marco
memintaku untuk segera menemui Adam kalau aku tidak mau mempunyai hubungan
lebih dengannya. Namun aku takut pernyataanku ini akan membuat hubungan
persahabatanku dengan Aisha rusak. Bagaimana lagi mau tidak mau aku harus
menyampaikan ini semua. Malam harinya aku ditemani Marco untuk bertemu dengan
Aisha dan Adam lagi. Adam sedikit kaget melihat aku datang dengan Marco, dengan
berat hati aku menyampaikan ini semua, aku melihat kekecewaan di wajah Adam.
Anehnya si Marco mengaku sebagai kekasihku di depan Adam, apa-apaan ini padahal
dia saja belum pernah menyampaikan apapun dihadapanku. Namun akhirnya Adam bisa
menerima ini semua, aku meminta agar persahabatan antara aku dan Aisha tetap
terjalin begitu juga dengan Adam, mereka pun meninggalkan tempat ini, namun
Aisha sudah berjanji ia akan tetap seperti Aisha yang dulu.
Ya,
aku rasa Marco tadi mengatakan kalau dia adalah kekasihku hanya untuk membantuku
agar lepas dari Adam. Namun ternyata tidak pada malam itu ia menggandeng
tanganku dan mengajakku ke lantai paling atas di Restoran tersebut, sungguh
indah pemandangan dari atas sini, aku baru sadar jika restoran ini terletak di
salah satu gedung tertinggi di NYC aku bisa melihat seluruh sudut kota New York
dan melihat kota Manhattan yang indah di seberang sana, ini lebih dari
ekspektasiku. Aku tidak menyangka bahwa dia yang mengabulkan keinginanku, dan
ternyata dia juga yang berada disini denganku seperti yang ia bilang di Kips
Bay malam itu. Marco ada disebelahku, dengan ditemani alunan piano yang mendukung
suasana malam ini, ia menjelaskan bahwa kedatangannya ke Indonesia kemarin hanya
untuk meminta izin mama papa ku untuk menyematkan cincin ke jari manisku, lalu
ia menyatakan perasaannya kepadaku dengan mengatakan “When I first saw you I
saw love, and the first time I hold you I felt love, and after all this time
you’re still the one.” Satu kalimat yang membuat melting seketika. Tatapannya
yang dalam masih sama seperti tatapannya saat kita pertama bertemu. Alunan musik
klasik ala Eropa, view skyline New York dan Dia didepanku menjadikan momen ini
momen terbaik dihidupku. Terimakasih New York, kota yang memberikan ku sejuta
memori indah yang aku impikan sejak kecil, serta momen terbaik di hidupku…
-END-
Komentar